Subang — Pabrik BYD Indonesia telah beroperasi secara resmi. Kehadiran fasilitas produksi yang berlokasi di Subang Smartpolitan Industrial Park ini menjadi langkah merek otomotif China ini dalam memperkuat kegiatan manufaktur sekaligus mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Tanah Air.
Pembangunan pabrik BYD Indonesia didasarkan pada industri otomotif yang kian berkembang pesat. Termasuk kendaraan elektrifikasi yang kian banyak diadopsi oleh konsumen Tanah Air.
“Perkembangan yang pesat ini juga menunjukkan bahwa elektrifikasi di Indonesia bertumbuh pesat. Saya harap peresmian pabrik hari ini menunjukkan bahwa perkembangan elektrifikasi di Indonesia semakin maju dan berkembang,” ujar Eagle Zhao, President Director PT BYD Motor Indonesia.
Eagle Zhao mengatakan bahwa seiring pesatnya pertumbuhan kendaraan elektrifikasi, pembangunan fasilitas manufaktur tersebut merupakan bagian dari rencana yang telah dicanangkan sejak dua tahun lalu untuk memulai kegiatan manufaktur di Indonesia.
“Kami bergerak sangat cepat untuk merealisasikan rencana manufaktur yang telah kami canangkan dua tahun lalu, yaitu memulai kegiatan manufaktur di Indonesia,” katanya.
Menjalankan proses produksi kendaraan secara lengkap, pabrik BYD berdiri di lahan seluas 126 hektar. Dengan mempekerjakan 5 ribu tenaga kerja saat ini, kapasitas produksi tahunannya bisa mencapai 150 ribu unit kendaraan. Apabila beroperasi dengan kapasitas puncak, fasilitas ini dapat menyerap 20 ribu tenaga kerja.
“Komitmen BYD tidak hanya terbatas pada perakitan saja. Kami juga menjalankan proses manufaktur yang lengkap dan menyeluruh, mencakup tahap stamping (pencetakan komponen), pengelasan, dan pengecatan,” ujarnya.

BYD akan kembangkan manufaktur baterai
Selain memperkuat fasilitas produksi kendaraan, BYD juga tengah menyiapkan langkah untuk mengembangkan manufaktur baterai di Indonesia. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kendaraan listrik yang diproduksinya.
“Berkaitan dengan baterai, kami juga memiliki rencana untuk manufaktur baterai. 2027 sebentar lagi, dan kami akan memenuhi kebutuhan TKDN 60 persen. Dari persiapan yang kami lakukan, kami sangat optimis dapat memenuhi TKDN 60 persen pada Januari 2027,” ujarnya.
Ke depan, BYD juga menyatakan akan terus meningkatkan investasinya di Indonesia. Perusahaan ingin mengambil peran lebih besar dalam membangun ekosistem kendaraan listrik, tidak hanya melalui produksi model unggulan seperti M6 DM, M6 EV, Atto1, dan Denza D9 saja, tetapi juga dengan melengkapi rantai industri pendukung kendaraan listrik di Tanah Air.
“BYD juga akan terus melanjutkan memperbesar investasinya di Indonesia. Kami berupaya untuk dapat menghadirkan dan melengkapi ekosistem kendaraan listrik di Indonesia,” pungkasnya.
Dengan beroperasinya fasilitas manufaktur tersebut, BYD berharap kehadirannya dapat semakin memperkuat industri otomotif nasional sekaligus mempercepat perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
