Jakarta – Truk merupakan salah satu roda kehidupan bagi industri transportasi logistik. Karena selalu bekerja tanpa kenal waktu, kendaraan komersial ini perlu dijaga kualitasnya agar selalu optimal demi menjaga keberlangsungan operasional bisnis.
Mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dengan mengeluarkan biaya seminimal mungkin, merupakan hal yang jamak terjadi dalam berbisnis. Kasusnya di industri transportasi logistik, tak sedikit armada truk dirawat sekadarnya. Alasannya, demi efisiensi dan mengambil cuan lebih banyak.
Memang di masa yang serba sulit ini, efisiensi perlu dilakukan agar cuan selalu mendatangi pebisnis. Namun, untuk perawatan menjaga performa armada truk logistik tak boleh disepelekan, karena ini menyangkut keselamatan dan keberlangsungan kegiatan bisnis di kemudian hari.
Dalam diskusi yang dihelat Katadata di JIExpo Kemayoran, Jakarta, (10/4), Adrian Tri Laksana selaku Ketua Tim Substansi Angkutan Barang Umum Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI mengatakan, “Kami sebagai regulator mengatur keselamatan, efisiensi itu bonusnya. Keselamatan memang investasi yang tidak murah, tetapi dengan investasi tersebut perusahaan justru bisa menghindari pembengkakan biaya jika terjadi kecelakaan.”
Berbagai cara dilakukan pemangku regulasi di industri ini. Mulai dari menggratiskan uji KIR kendaraan pengangkut barang, menetapkan batas usia kendaraan maksimal 20 tahun, mendorong penggunaan alat pelacak lokasi berbasis GPS, serta melarang serta melarang kendaraan membawa muatan berlebih, yang biasa disebut truk ODOL (Over Dimension, Over Load).
“Harapannya para pengusaha bisa memanfaatkan kebijakan tersebut untuk memastikan armadanya selamat. Jika kendaraan dalam kondisi baik dan aman, maka pada akhirnya akan lebih menguntungkan bagi perusahaan,” kata Adrian.
Untuk menaati regulasi yang dibuat pemerintah, tentu ada tantangannya tersendiri bagi pengusaha logistik. Armada truk yang melakukan perawatan, atau sedang uji KIR, tentu masuk dalam masa downtime, di mana keberlangsungan operasional bisnis terganggu lantaran kendaraan tidak beroperasi.
Mengatasi itu, skema rental kendaraan merupakan solusinya. Para penyewa, dapat menjalankan operasional bisnisnya tanpa harus mengorbankan waktu saat armada truk memasuki masa downtime. Benefit lainnya, biaya operasional kendaraan pun tak perlu ditanggung alias tinggal terima beres.
Butar Tio selaku General Manager Sales Batavia Rent mengatakan, “Di Batavia Rent, kami melakukan maintenance secara rutin sehingga pengusaha tidak perlu memikirkan perawatan kendaraan. Mereka tinggal menggunakan kendaraan dalam kondisi prima.”

Kunci efisiensi operasional truk terletak di layanan purnajual
Soal efisiensi kendaraan, pihak produsen juga punya trik jitu mengoptimalkannya. Salah satunya adalah menyediakan layanan purnajual yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional pengusaha di industri logistik.
“Operasional logistik ini tidak mengenal waktu, mungkin 24 jam harus siap. Tantangan bagi kami sebagai produsen harus menyiapkan tidak hanya produk-produk truk dan bus berkualitas yang banyak variannya, tetapi juga harus menyediakan pelayanan purnajual terbaik,” kata Aji Jaya, Sales & Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (Mitsubishi Fuso).
“Salah satu potensi kebocoran (biaya) yang paling besar adalah di purnajual. Mitsubishi Fuso telah dilengkapi sistem telematics yang dapat memonitor operasional kendaraan, baik truknya sendiri, maupun pengemudinya. Dengan alat itu, si pengusaha dapat mengevaluasi apa saja yang perlu diperbaiki selama kendaraan beroperasi,” tambahnya.
Selain memiliki sistem telematik canggih, Mitsubishi Fuso juga menawarkan sukucadang truk dengan berbagai varian kualitas, yakni sukucadang asli yang terkenal awet dan Suku Cadang Tiga Berlian sebagai komponen alternatif yang punya harga lebih terjangkau.
“Kalau sukucadang asli dibuatnya di Jepang, sementara Suku Cadang Tiga Berlian diproduksi lokal. Kualitasnya memang tidak sekuat asli yang memiliki masa pakai lebih panjang, namun mendekati dengan harga lebih murah. Saat ini sudah ada 500 lebih komponen yang dibuat lokal, sehingga bisa menambah efisien biaya operasional,” pungkas Aji.
Lebih lanjut, merek kendaraan komersial Jepang ini juga memiliki jaringan purnajual luas, dengan empat depo sukucadang di lokasi-lokasi strategis, serta disediakannya unit Mobile Workshop Service sebagai bengkel berjalan untuk mengunjungi lokasi bisnis yang berada di wilayah terpencil atau jauh dari bengkel guna melakukan perbaikan maupun perawatan.
Efisiensi di industri logistik memang tidak hanya bergantung pada satu pihak. Kolaborasi antara regulator, operator armada, dan produsen kendaraan menjadi kunci dalam menciptakan sistem yang lebih efisien, aman, dan berdaya saing. ##
