Jakarta – Keselamatan berkendara jadi hal penting dan kondisi cuaca seperti hujan sangat mempengaruhi. Hujan bukan cuma membuat jalan licin, dalam kondisi tertentu juga air yang menempel di kaca depan dapat mengurangsi visibilitas pengemudi.
Jarak pandang yang terbatas membuat visibilitas pengemudi lebih sempit untuk membaca waktu situasi di depan kendaraan. Karena itu, wiper jadi salah satu komponen penting yang perlu diperhatikan kondisi dan perawatannya.
Managing Director Bosch Indonesia, Pirmin Riegger, mengatakan, teknologi memiliki peran penting dalam mendukung keselamatan, tetapi manfaatnya baru benar-benar terasa ketika inovasi dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata manusia.
“Bagi Bosch, teknologi bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru. Melalui prinsip Invented for Life, kami ingin memastikan bahwa inovasi memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia. Dalam mobilitas, hal tersebut berarti menghadirkan teknologi yang membantu membuat perjalanan menjadi lebih aman, sekaligus dapat diandalkan dalam berbagai kondisi,” ujar Pirmin, dalam keterangannya.
Prinsip tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan Bosch di industri otomotif selama lebih dari satu abad. Tahun 2026 menandai 100 tahun teknologi wiper Bosch, yang menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah kebutuhan sederhana dalam berkendara terus mendorong inovasi dari waktu ke waktu.

“Selama 100 tahun, kebutuhan pengemudi mungkin berkembang seiring perubahan kendaraan dan teknologi, tetapi satu hal tetap sama: manusia membutuhkan teknologi yang dapat diandalkan untuk membantu mereka berkendara dengan lebih aman. Karena itu, inovasi bagi kami bukan hanya tentang mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga tentang memahami bagaimana teknologi tersebut memberikan manfaat bagi penggunanya,” tambah Pirmin.
Komponen yang sekilas tampak sederhana ini berperan penting menjaga kaca depan tetap bersih dari air. Tak hanya air, baik kotoran dan debu pun bisa disapu bersih oleh wiper agar pandangan pengemudi tidak terganggu saat berkendara.
Secara global, keselamatan jalan masih menjadi tantangan besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,16 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas, dengan jutaan lainnya mengalami cedera.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keselamatan di jalan tidak dapat dilihat hanya dari satu faktor, melainkan membutuhkan kesiapan yang saling terhubung antara pengemudi, kendaraan, jalan, dan lingkungan perjalanan.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Dr. Drs. Aan Suhanan, M.Si., menekankan bahwa budaya keselamatan tidak berhenti ketika kendaraan dinyatakan lulus uji tipe atau laik jalan.
Keselamatan harus dijaga sepanjang siklus hidup kendaraan, mulai dari desain, produksi, registrasi, hingga masa operasional. Hal tersebut disampaikan melalui Kasubdit Uji Kendaraan Bermotor Kementerian Perhubungan RI, Heri Prabowo, dalam diskusi memperingati 100 tahun inovasi wiper Bosch di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keselamatan jalan bertumpu pada tiga hal: kendaraan yang laik, pengemudi yang kompeten, serta infrastruktur dan ekosistem yang mendukung. Ketiganya harus berjalan bersama, dengan sinergi pemerintah, industri, dan pengguna jalan sebagai kuncinya.
“Kegiatan seperti Bosch Safety Driving Campaign ini merupakan salah satu contoh konkret bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan industri dapat memperkuat edukasi keselamatan kepada masyarakat luas,” jelasnya.
Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan bahwa sebagian besar keputusan pengemudi bergantung pada informasi visual.
“Pengemudi mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat. Karena itu, visibilitas yang baik menjadi bagian penting dalam membantu pengemudi membaca situasi dan mengambil keputusan lebih awal,” ujar Yannes.

Untuk mengenali kondisi wiper yang mulai menurun, bisa diamati dari sapuan wiper yang mulai terlihat meninggalkan garis air, suara berdecit, hingga adanya bagian kaca yang tidak tersapu sempurna.
Country Sales Director Bosch Mobility Aftermarket, Griselda Iwandi, mengatakan bahwa kondisi wiper sebaiknya diperiksa secara berkala.
“Idealnya, wiper diganti setiap enam bulan, tetapi kondisi penggunaan juga perlu diperhatikan. Pengemudi tidak perlu menunggu sampai wiper berhenti berfungsi. Ketika hasil sapuannya mulai menurun, itu sudah menjadi tanda untuk melakukan pemeriksaan dan penggantian,” ujar Griselda.
Untuk memastikan kinerja wiper optimal tidak hanya soal kondisi karetnya saja. Griselda menyebut bahwa kesesuaian produk dengan kendaraan, pemasangan yang tepat, serta keaslian produk turut menentuka kinerja wiper.
Karena itu, konsumen perlu memperhatikan spesifikasi dan memilih produk dari kanal yang terpercaya agar wiper dapat bekerja sebagaimana mestinya saat dibutuhkan.
