Jakarta — Mobil listrik memang memiliki banyak keunggulan dibandingkan mobil konvensional, di mana bermesin bensin atau diesel. Sebut saja emisi nol, lebih sunyi, biaya operasional dan perawatan jauh lebih rendah, dan lain-lain.
Namun, di sisi lain, banyak penumpang merasa mual atau mabuk ketika mobil listrik melaju. Menurut perusahaan ekspor mobil China IHK Auto, mabuk perjalanan terjadi ketika otak menerima sinyal sensorik yang bertentangan.
Sistem vestibular telinga bagian dalam merasakan pergerakan kendaraan, sementara mata-mata para penumpanng yang fokus pada objek-objek diam di dalam kabin—seperti telepon atau sandaran kursi—mengirimkan pesan “tidak bergerak”. Ketidaksesuaian sensorik ini memicu pusing, mual, dan ketidaknyamanan.
Rekayasa kendaraan listrik memperparah konflik sensorik ini. Penyebab utamanya adalah torsi instan: motor listrik memberikan daya penuh segera setelah akselerasi, tidak seperti mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) yang membangun daya secara bertahap. Hal ini menghasilkan ubahan akselerasi cepat dan tidak terduga yang menantang sistem vestibular.
Pengereman regeneratif memperparah masalah. Sistem ini menciptakan perlambatan mendadak ketika pengemudi melepaskan pedal gas, sangat berbeda dengan perlambatan bertahap pada mobil bensin.
Selain itu, pengoperasian mobil listrik yang hampir tanpa suara menghilangkan getaran dan suara mesin yang biasanya membantu penumpang secara tidak sadar mengantisipasi gerakan.
Ada beberapa upaya yang harus dterapkan oleh para pabrikan mobil listrik untuk mereduksi atau melenyapkan mabuk perjalanan seperti memogram pelepasan torsi mobil secara bertahap, mengoptimalkan sistem suspensi, melembutkan regenerative braking.
MGS5 EV
Untuk itulah Morris Garages (MG) menerapkan Motion Comfort System (MCS) di MGS5 EV. Sistem ini diklaim oleh brand asal Inggris ini tidak akan membuat para penumpang mabuk selama perjalanan.
“Motion Comfort System bukan fitur tunggal yang bisa diaktifkan atau dimatikan, tetapi merupakan integrated vehicle comfort system. Secara sederhana, Motion Comfort System bekerja melalui kombinasi beberapa aspek kendaraan, seperti karakter akselerasi dan deselerasi, tuning regenerative braking, respons electric power steering, braking feel, serta tuning chassis dan suspensi. Tujuannya adalah membuat pergerakan mobil terasa lebih natural, smooth, dan stabil, terutama saat stop-and-go, akselerasi, deselerasi, maupun saat melewati jalan tidak rata. Yang diatur adalah keseluruhan karakter gerak kendaraan agar penumpang, terutama di baris kedua merasa lebih nyaman dan tidak mudah merasa mual atau dizzy,” kata Eko Fachruroji, Product Manager MG Motor Indonesia.
Jurnalis Otobisnis yang sempat mengendarai dan menjadi penumpang MGS5 EV beberapa waktu lalu pun tidak merasakan mual atau pusing. Akselerasi-akselerasi yang dilakukan oleh pengemudi tidak membuat kami mual, meski karakternya sebagai mobil listrik tetap ada.
MGS5 EV dijual dengan 2 varian Ignite dan Magnify, dengan motor listrik (belakang) bertenaga 170 PS dan bertorsi 250 Nm. Nantinya akan menyusul varian Magnify Max dengan tenaga 204 PS dan torsi 350 Nm, di mana akan dikirim ke para pelanggan pada kuartal III 2026.
Varian Ignite dan Magnify menggendong baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) 49kWh dengan jarak tempuh 415 kilometer dan 410 kilometer. Varian Magnify Max berbaterai 62kWh dengan jarak tempuh lebih jauh 515 kilometer. ##
Harga MGS5 EV:
- Ignite Rp333,900,000 (untuk 1.500 konsumen pertama)
- Magnify Rp355,900,000 (untuk 1.500 konsumen pertama)
- Magnify Max Rp455,900,000
