Jakarta – Penyedia jasa transportasi Daytrans, kini, menggunakan Farizon SuperVan sebagai armada Antar Jemput Antar Propinsi (AJAP). Peralihan secara bertahap menggunakan kendaraan listrik, merupakan langkah perusahaan untuk ambil bagian dalam industri transportasi menggunakan kendaraan energi terbarukan.
Mengganti armadanya menggunakan kendaraan elektrifikasi, nyatanya juga menjadi simbol transformasi bisnis Daytrans, sekaligus menjaga kebutuhan operasional jangka panjangnya. Mereka melakukan hal ini sebagai antisipasi terkait perkembangan industri transportasi dan kebijakan yang menuntut penggunaan kendaraan ramah lingkungan.
“Peralihan ini tentu merupakan sebuah perjalanan. Melalui Farizon SuperVan, kami ingin mendapatkan pengalaman nyata mengenai bagaimana kendaraan listrik diintegrasikan ke dalam operasional transportasi, sekaligus mempersiapkan ekosistem dan sumber daya kami untuk menghadapi era mobilitas berikutnya,” ungkap Yosepha Melani Darmawan, Direktur Daytrans.
Dengan pengalaman yang diperoleh melalui penggunaan Farizon SuperVan, Daytrans dapat mempelajari berbagai aspek penting dalam implementasi kendaraan listrik, termasuk kesiapan operasional, kebutuhan infrastruktur pengisian daya, pola penggunaan kendaraan, serta respons pelanggan terhadap pengalaman menggunakan kendaraan listrik.
“Kami tidak ingin melihat elektrifikasi hanya dari sisi kendaraannya. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh ekosistemnya dapat dipersiapkan, mulai dari armada, operasional, infrastruktur, sumber daya manusia, hingga pengalaman pelanggan,” tambah Yosepha.

Daytrans Farizon SuperVan lebih aman, lebih murah
Menggunakan Farizon SuperVan sebagai armada, merupakan respon Daytrans menjawab kebutuhan pelanggan akan keselamatan, teknologi. Kendaraan niaga penumpang ini dilengkapi Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) yang mencakup Automatic Emergency Braking, Intelligent Speed Assist, Adaptive Cruise Control, dan Rear Traffic Monitoring System.
“(Keunggulan Farizon SuperVan) ada kamera 360, kemudian full adaptive driving assistance system, jadi adasnya lengkap, kalau supir mengantuk atau terdistraksi itu bakal terdeteksi, fitur itu untuk meningkatkan safety,” ungkap Andrianto Putera Tirtawisata, Direktur Utama PT WEHA Transportasi Indonesia, induk usaha Daytrans.
Lebih lanjut Andrianto menambahkan, dari sekian banyak kendaraan niaga penumpang elektrifikasi, Farizon SuperVan merupakan model yang paling siap untuk dijadikan armada antar-jemput. Pasalnya, model ini mampu dibawa di kecepatan tinggi, memiliki jarak tempuh jauh, dan harganya yang cocok di kantong perusahaan.
Melalui keunggulan pada sisi produk berupa harga unit terjangkau dengan minim biaya perawatan, armada Daytrans menggunakan Farizon SuperVan diganjar harga tiket yang ikut terjangkau, setidaknya untuk sementara ini.
“Kalau rata-rata sebelumnya Rp 350 ribu, sekarang Rp 275-300 ribu. Sebenernya sih kami pengennya harga (diskonnya) tetap, karena menjadi kelebihan kami dibanding yang lain, cuma kami evaluasi dari segi biayanya, karena belum tau durabilitas, maintenance tiap bulan berapa, karena itu berdampak pada harga tiket,” pungkas Ardianto.
Daytrans meyakini bahwa belajar dari implementasi awal dan mengukur hasilnya akan menjadi landasan berbasis data untuk langkah strategis berikutnya, guna memastikan standar operasional tetap terjaga, sembari menjaga lingkungan tetap hijau.
